عن أبي هريرة -رضي الله عنه- قال: كنا مع رسول الله -صلى الله عليه وسلم- في دعوة، فَرُفِعَ إليه الذِّرَاعُ، وكانت تعجبه، فَنَهَسَ منها نَهْسَةً وقال: «أنا سَيِّدُ الناس يوم القيامة، هل تدرون مِمَّ ذاك؟ يجمع الله الأولين والآخرين في صَعِيدٍ واحد، فيُبْصرُهُم الناظر، يُسْمِعُهُمُ الداعي، وتَدْنُو منهم الشمس، فيبلغ الناس من الغَمِّ والكَرْبِ ما لا يُطيقُون ولا يحتملون، فيقول الناس: ألا ترون ما أنتم فيه إلى ما بَلَغَكُم، ألا تنظرون من يشفع لكم إلى ربكم؟ فيقول بعض الناس لبعض: أبوكم آدم. فيأتونه فيقولون: يا آدم أنت أبو البشر، خلقك الله بيده، ونفخ فيك من روحه، وأمر الملائكة فسجدوا لك، وأسكنك الجنة، ألا تشفع لنا إلى ربك؟ ألا ترى إلى ما نحن فيه وما بلغنا؟ فقال: إن ربي غضب اليوم غضبًا لم يغضب قبله مثله، ولا يغضب بعده مثله، وإنه نهاني عن الشجرة فعصيتُ، نفسي نفسي نفسي، اذهبوا إلى غيري، اذهبوا إلى نوح، فيأتون نوحًا فيقولون: يا نوح، أنت أول الرسل إلى أهل الأرض، وقد سماك الله عبدًا شكورًا، ألا ترى إلى ما نحن فيه، ألا ترى إلى ما بلغنا، ألا تشفع لنا إلى ربك؟ فيقول: إن ربي غضب اليوم غضبًا لم يغضب قبله مثله، ولن يغضب بعده مثله، وإنه قد كانت لي دعوة دعوتُ بها على قومي، نفسي نفسي نفسي، اذهبوا إلى غيري، اذهبوا إلى إبراهيم، فيأتون إبراهيم فيقولون: يا إبراهيم، أنت نبي الله وخليله من أهل الأرض، اشْفَعْ لنا إلى ربك، ألا ترى إلى ما نحن فيه؟ فيقول لهم: إن ربي قد غضب اليوم غضبًا لم يغضب قبله مثله، ولن يغضب بعده مثله، وإني كنت كذبت ثلاث كَذَبَات؛ نفسي نفسي نفسي، اذْهَبُوا إلى غيري، اذْهَبُوا إلى موسى، فيأتون موسى فيقولون: يا موسى أنت رسول الله، فضلك الله برسالاته وبكلامه على الناس، اشْفَعْ لنا إلى ربك، ألا ترى إلى ما نحن فيه؟ فيقول: إن ربي قد غضب اليوم غضبًا لم يغضب قبله مثله، ولن يغضب بعده مثله، وإني قد قتلت نفسًا لم أُومَرْ بقتلها، نفسي نفسي نفسي، اذهبوا إلى غيري؛ اذهبوا إلى عيسى. فيأتون عيسى فيقولون: يا عيسى، أنت رسول الله وكلمته ألقاها إلى مريم وروح منه، وَكَلَّمْتَ الناس في المهد، اشْفَعْ لنا إلى ربك، ألا ترى إلى ما نحن فيه؟ فيقول عيسى: إن ربي قد غضب اليوم غضبًا لم يغضب قبله مثله، ولن يغضب بعده مثله، ولم يذكر ذنبًا، نفسي نفسي نفسي، اذهبوا إلى غيري، اذهبوا إلى محمد -صلى الله عليه وسلم-». وفي رواية: «فيأتوني فيقولون: يا محمد أنت رسول الله وخاتم الأنبياء، وقد غفر الله لك ما تقدم من ذنبك وما تأخر، اشْفَعْ لنا إلى ربك، ألا ترى إلى ما نحن فيه؟ فأنْطَلِقُ فآتي تحت العرش فأقع ساجدًا لربي، ثم يفتح الله عليَّ من مَحَامِدِه وحُسْنِ الثناء عليه شيئًا لم يفتحه على أحد قبلي، ثم يقال: يا محمد ارفع رأسك، سَلْ تُعْطَهْ، اشْفَعْ تُشَفَّعْ، فأرفع رأسي، فأقول: أمتي يا رب، أمتي يا رب، أمتي يا رب. فيقال: يا محمد أدخلْ من أمتك من لا حساب عليهم من الباب الأيمن من أبواب الجنة، وهم شركاء الناس فيما سوى ذلك من الأبواب». ثم قال: «والذي نفسي بيده، إن ما بين الْمِصْرَاعَيْنِ من مصاريع الجنة كما بين مكة وهَجَر، أو كما بين مكة وبُصْرَى».
[صحيح.] - [متفق عليه.]
المزيــد ...

Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu berkata, Kami pernah bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam sebuah undangan. Beliau diberi kaki kambing, dan beliau memang menyukainya, lalu beliau menggigitnya dengan ujung giginya dan bersabda, "Aku pemimpin manusia pada hari Kiamat. Tahukah kalian kenapa? Allah akan mengumpulkan semua manusia dari yang pertama hingga yang terakhir dalam satu tanah lapang; semua mereka akan terlihat oleh orang yang melihat, serta suara seorang penyeru akan terdengar oleh semua mereka, dan matahari akan merendah pada mereka. Maka manusia akan mengalami kegelisahan dan kesusahan sampai pada batas yang tidak mampu mereka pikul. Lalu manusia berkata, 'Tidakkah kalian melihat keadaan kalian? Tidakkah kalian melihat apa yang menimpa kalian? Tidakkah kalian melihat siapa yang dapat memintakan syafaat untuk kalian dari Rabb kalian?' Mereka berkata satu sama lain, 'Hendaklah kalian menemui bapak kalian, Adam.' Lantas mereka menemui Adam lalu berkata, 'Wahai Adam! Engkau adalah bapak seluruh manusia. Allah telah menciptakanmu dengan tangan-Nya dan meniupkan ruh-Nya padamu. Allah memerintahkan para malaikat bersujud kepadamu lalu mereka pun bersujud, dan Allah menempatkanmu di surga. Tidakkah engkau memintakan kami syafaat kepada Rabb-mu? Tidakkah engkau melihat kondisi kami? Tidakkah engkau melihat yang menimpa kami?' Adam berkata, 'Sungguh Rabb-ku saat ini benar-benar marah. Dia tidak pernah marah seperti ini sebelumnya dan tidak akan pernah marah yang seperti ini sesudahnya. Dulu Dia melarangku mendekati pohon itu, tapi aku durhaka. Oh, diriku, diriku, diriku! Pergilah pada selainku. Pergilah kepada Nuh.' Lantas mereka datang menemui Nuh lalu berkata, 'Wahai Nuh! Engkau adalah rasul pertama kepada penduduk bumi dan Allah menyebutmu sebagai hamba yang sangat bersyukur. Tidakkah engkau melihat kondisi kami? Tidakkah engkau melihat apa yang menimpa kami? Tidakkah engkau memintakan kami syafaat kepada Rabb-mu?' Nuh berkata kepada mereka, 'Rabb-ku saat ini benar-benar marah. Dia tidak pernah marah seperti ini sebelumnya dan tidak akan pernah marah yang seperti ini sesudahnya. Dulu aku memiliki sebuah doa, aku menggunakannya untuk mendoakan keburukan terhadap kaumku. Oh, diriku, diriku, diriku! Pergilah kepada selainku. Pergilah ke Ibrahim.' Lantas mereka datang menemui Ibrahim lalu berkata, 'Wahai Ibrahim! Engkau adalah nabi Allah dan kekasih-Nya dari penduduk bumi. Mintakanlah kami syafaat kepada Rabb-mu. Tidakkah engkau melihat kondisi kami?' Ibrahim berkata kepada mereka, 'Rabb-ku saat ini benar-benar marah. Dia tidak pernah marah seperti ini sebelumnya dan tidak akan pernah marah yang seperti ini sesudahnya. Dulu aku pernah bedusta tiga kali. Oh, diriku, diriku, diriku! Pergilah kepada selainku, pergilah ke Musa.' Lantas mereka pergi menemui Musa lalu berkata, 'Wahai Musa! Engkau adalah rasul Allah. Allah telah melebihkanmu dengan risalah dan kalam-Nya atas seluruh manusia. Mintakanlah kami syafaat kepada Rabb-mu. Tidakkah engkau melihat kondisi kami?' Musa berkata, 'Rabb-ku saat ini benar-benar marah. Dia tidak pernah marah seperti ini sebelumnya dan tidak akan pernah marah yang seperti ini sesudahnya. Dulu aku telah membunuh jiwa yang tidak diperintahkan kepadaku untuk membunuhnya. Oh, diriku, diriku, diriku! Pergilah kepada selainku. Pergilah kepada Isa.' Lantas mereka datang menemui Isa lalu berkata, 'Wahai Isa! Engkau adalah rasul Allah, kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam, dan ruh dari ciptaan-Nya. Engkau berbicara pada manusia saat masih berada dalam buaian. Mintakanlah kami syafaat kepada Rabb-mu. Tidakkah engkau melihat kondisi kami?' Isa berkata, 'Rabb-ku saat ini benar-benar marah. Dia tidak pernah marah seperti ini sebelumnya dan tidak akan marah yang seperti ini sesudahnya. -Dia tidak menyebut sebuah dosa- Oh, diriku, diriku, diriku! Pergilah kepada selainku. Pergilah kepada Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.'" Dalam riwayat lain ditambahkan, "Lantas mereka datang menemuiku lalu berkata, 'Wahai Muhammad! Engkau adalah rasul Allah dan penutup para nabi. Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang kemudian. Mintakanlah kami syafaat kepada Rabb-mu. Tidakkah engkau melihat kondisi kami?' Lalu aku bergegas pergi menuju ke bawah Arasy lalu aku jatuh bersujud kepada Rabb-ku. Allah kemudian membukakan (mengilhamkan untukku) pujian-pujian dan sanjungan yang baik untuk-Nya, sesuatu yang belum pernah dibukakan kepada seorang pun sebelumku. Kemudian dikatakan, 'Hai Muhammad! Angkatlah kepalamu. Mintalah, permintaanmu pasti akan diberikan kepadamu. Berikanlah syafaat, niscaya syafaatmu akan diizinkan.' Maka aku mengangkat kepalaku, aku berkata, 'Umatku, wahai Rabb-ku! Umatku, wahai Rabb-ku! Umatku, wahai Rabb-ku!' Maka dikatakan, 'Hai Muhammad! Masukkan di antara umatmu siapa saja yang tidak dihisab melalui pintu kanan di antara pintu-pintu surga. Mereka juga memiliki hak yang sama dengan semua manusia lainnya di pintu-pintu surga lainnya.'" Setelah itu beliau bersabda, "Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya! Jarak antara dua sisi tiap pintu surga seperti jarak antara Mekah dan Hajar, atau seperti jarak antara Mekah dan Buṣrā."
[Hadis sahih] - [Muttafaq 'alaih]

Uraian

Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa mereka pernah bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam sebuah perjamuan makan. Lantas beliau disuguhi kaki kambing dan beliau menggigitnya dengan gigi beliau, dan beliau memang menyukai kaki kambing, karena dagingnya adalah yang terbaik di antara daging-daging lainnya, juga dagingnya lunak, mudah dikunyah, dan sangat bermanfaat. Sehingga Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyukainya lalu beliau menggigitnya dengan ujung giginya. Kemudian beliau menyampaikan kepada mereka hadis yang panjang dan mengagumkan ini. Beliau bersabda, "Aku adalah pemimpin umat manusia pada hari Kiamat." Dan tidak diragukan, beliau adalah pemimpin anak keturunan Adam dan yang paling mulia di antara umat manusia di sisi Allah -Tabāraka wa Ta'ālā-. Kemudian beliau bertanya, "Tahukah kalian kenapa?" Mereka menjawab, "Tidak, wahai Rasulullah!" Kemudian beliau menyampaikan kepada mereka penjelasan tentang kemuliaan dan keutamaan beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di atas semua umat manusia. Beliau menyebutkan bahwa semua manusia akan dikumpulkan pada hari Kiamat di atas tanah yang luas nan rata; dari manusia yang paling pertama hingga yang paling terakhir, sebagaimana Allah -'Azza wa Jalla- berfirman, "Katakanlah, '(Ya), sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan yang kemudian, pasti semua akan dikumpulkan pada waktu tertentu.'" (QS. Al-Wāqi'ah: 49-50). Mereka akan dikumpulkan di bumi yang sama. Bumi pada hari itu akan terbentang, tidak bulat seperti bentuknya hari ini. Bila engkau mengarahkan pandanganmu -hari ini- maka engkau tidak akan dapat melihat kecuali permukaan bumi yang ada di hadapanmu saja. Adapun pada hari Kiamat, bumi akan dibentangkan seperti membentangkan kulit; tidak ada gunung, lembah, sungai, maupun laut. Bumi dibentangkan satu bentangan. Semua yang ada di sana dapat diperdengarkan oleh seorang penyeru dan akan terlihat oleh penglihatan. Artinya bila seseorang berbicara maka akan terdengar oleh orang yang berada paling akhir, demikian juga penglihatan akan melihat mereka semuanya, karena tidak ada bulatan sehingga sebagian tidak akan terlihat dari sebagian lainnya. Tetapi mereka semuanya akan berada di satu tanah lapang. Pada hari itu matahari akan merendah kepada manusia seukuran jarak satu mil. Manusia akan mengalami kegelisahan dan kesusahan sampai batas yang tidak mampu mereka pikul. Maka bumi menjadi sempit bagi mereka dan mereka mencari syafaat barangkali ada seseorang yang dapat memberi mereka syafaat di sisi Allah -Jalla wa 'Alā-, minimal agar menyelamatkan mereka di tempat ini. Lalu Allah -'Azza wa Jalla- mengilhami mereka untuk datang kepada Adam, ayah umat manusia. Lantas mereka menemuinya dan menyebutkan keutamaannya barangkali dia bisa memberi mereka syafaat di sisi Allah -'Azza wa Jalla-. Mereka berkata, "Engkau adalah Adam! Engkau adalah bapak seluruh manusia, yang laki-laki dan perempuan, hingga hari Kiamat. Allah telah menciptakanmu dengan tangan-Nya, sebagaimana Allah -Ta'ālā- berfirman, 'Apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku?' (QS. Ṣād: 75). Allah telah memerintahkan para malaikat agar bersujud kepadamu; Allah -Ta'ālā- berfirman, 'Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, 'Sujudlah kamu kepada Adam!' Maka mereka pun bersujud.'" (QS. Al-Baqarah: 34). Allah telah mengajarimu nama segala sesuatu; Allah -Ta'ālā- berfirman, 'Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya.' (QS. Al-Baqarah: 31). Dan Allah -Ta'ālā- meniupkan ruh-Nya padamu; Allah -Ta'ālā- berfirman, 'Maka apabila Aku telah menyempurnakan (kejadian)nya, dan Aku telah meniupkan roh (ciptaan)Ku ke dalamnya, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.'" (QS. Al-Ḥijr: 29). Semua ini diketahui oleh semua umat manusia, terutama umat Muhammad yang telah Allah -Ta'ālā- berikan berbagai ilmu yang tidak diberikan kepada umat mana pun. Namun Adam meminta maaf dan berkata, "Sungguh Rabb-ku saat ini benar-benar marah. Dia tidak pernah marah seperti ini sebelumnya dan tidak akan pernah marah yang seperti ini sesudahnya." Kemudian dia menyebutkan kesalahannya, yaitu Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- melarangnya memakan buah sebuah pohon namun dia memakannya. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "(Tetapi) janganlah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim!” (QS. Al-Baqarah: 35). Kemudian dia dihukum dengan dikeluarkan dari surga ke bumi dengan hikmah yang Allah -'Azza wa Jalla- inginkan. Adam menyebutkan kesalahannya dan berkata, "Oh, diriku, diriku, diriku!" Maksudnya, seandainya aku bisa menyelamatkan diriku sendiri. Adam menegaskannya dan mengulangnya sebanyak tiga kali. Lalu berkata, "Pergilah pada selainku. Pergilah kepada Nuh." Nuh adalah ayah kedua bagi manusia; karena Allah telah menenggelamkan semua penghuni bumi yang mendustakan Nuh; sebagaimana firman-Nya: "Ternyata orang-orang beriman yang bersama dengan Nuh hanya sedikit." (QS. Hūd: 40). Sementara keturunan yang lain tidak berlanjut. Lantas mereka berkata satu sama lain, "Pergilah kepada Nuh." Mereka pun datang menemui Nuh karena mereka sedang dalam kesulitan dan kesempitan. Mereka datang dan menyebutkan nikmat-nikmat Allah kepadanya; bahwa dia adalah rasul pertama yang Allah utus ke penduduk bumi, dan bahwa Allah menyebutnya sebagai hamba yang sangat bersyukur. Namun, Nuh menjawab dengan perkataan yang sama sebagaimana yang dikatakan oleh Adam; bahwa Allah -'Azza wa Jalla- saat ini benar-benar marah, Dia tidak pernah marah seperti ini sebelumnya dan tidak akan pernah marah yang seperti ini sesudahnya. Kemudian Nuh menyebutkan doa yang pernah dia lontarkan terhadap kaumnya, “Ya Tuhanku! Janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi." (QS. Nūḥ: 26). Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Nuh menyebutkan doa yang dia panjatkan terhadap putranya, "Nuh berkata, 'Ya Tuhanku! Sesungguhnya anakku adalah termasuk keluargaku, dan janji-Mu itu pasti benar. Engkau adalah hakim yang paling adil.' Dia (Allah) berfirman, 'Wahai Nuh! Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu, karena perbuatannya sungguh tidak baik, sebab itu jangan engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak engkau ketahui (hakikatnya). Sungguh Aku menasihatimu agar (engkau) tidak termasuk orang yang bodoh.'" (QS. Hūd: 45-46). Nuh lalu menyebutkan dosanya, sementara seorang pemberi syafaat tidak akan memberi syafaat kecuali bila antara dirinya dan tempat memberi syafaat tidak terdapat sesuatu yang mengharuskan adanya kerenggangan. Sedangkan maksiat seorang hamba kepada Rabb-nya akan melahirkan kerenggangan antara keduanya serta rasa malu kepada-Nya. Nuh menyebutkan kesalahannya lantas mengatakan, "Oh, diriku, diriku, diriku!" Lalu Nuh mengalihkan mereka kepada Ibrahim -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Lantas mereka datang menemui Ibrahim lalu berkata, "Engkau adalah kekasih Allah dari penduduk bumi." Mereka menyebutkan sifat-sifat terpujinya dan memintanya supaya memberi mereka syafaat kepada Rabb-nya. Tetapi Ibrahim meminta maaf dan menyebutkan bahwa dia telah berdusta tiga kali. Ibrahim berkata, "Oh, diriku, diriku, diriku!" Kedustaan yang dimaksudkan, ialah ucapannya: “Sesungguhnya aku sakit” (QS. Aṣ-Ṣāffāt: 89); padahal dia tidak sakit. Tetapi dia mengucapkannya sebagai tantangan terhadap kaumnya yang menyembah bintang. Kedua: ucapannya: “Sebenarnya (patung) besar itu yang melakukannya" (QS. Al-Anbiyā`: 63); padahal patung itu tidak pernah berbuat, tetapi yang melakukannya sebenarnya adalah Ibrahim -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Tetapi dia menyebutkan hal itu dalam rangka menantang orang-orang yang menyembah berhala-berjhala itu. Ketiga: perkataannya kepada raja yang kafir, "Ini adalah saudariku", maksudnya istrinya supaya bisa selamat dari keburukannya, padahal dia tidak demikian. Ini semuanya secara lahir adalah kebohongan, namun pada hakikatnya dan sesuai penafsiran Ibrahim -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bukanlah kebohongan. Namun karena tingginya sifat warak dan rasa malunya kepada Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- maka dia meminta maaf dengan sebab ini. Ibrahim berkata, "Oh, diriku, diriku, diriku! Pergilah kepada selainku, pergilah ke Musa." Lantas mereka pergi menemui Musa dan menyebutkan sifat-sifat terpujinya; bahwa Allah -Ta'ālā- berbicara langsung kepadanya dan memilihnya di atas penduduk bumi semuanya untuk memikul risalah dan kalam-Nya. Kemudian Musa menyebutkan satu dosa dan meminta maaf, bahwa dia telah membunuh seorang jiwa sebelum diizinkan membunuhnya, yaitu seorang laki-laki qibtiy yang bertengkar dengan seorang laki-laki dari Bani Israil; Musa -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berasal dari Bani Israil sedangkan laki-laki qibtiy itu berasal dari kabilah Firaun; sebagaimana dalam ayat: "Orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk (mengalahkan) orang yang dari pihak musuhnya, lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu." (QS. Al-Qaṣaṣ: 15). Musa membunuhnya sebelum diperintahkan untuk membunuhnya. Musa -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melihat hal ini menjadi penghalang antara dia dan memberi syafaat kepada umat manusia karena dia membunuh seorang jiwa sebelum diperintahkan membunuhnya. Musa lalu berkata, "Oh, diriku, diriku, diriku! Pergilah kepada selainku. Pergilah kepada Isa." Lantas mereka datang menemui Isa dan menyebutkan karunia Allah kepadanya; bahwa Allah meniupkan padanya ruh dari ciptaan-Nya, bahwa dia adalah kalimat Allah yang disampaikan kepada Maryam dan ruh dari ciptaan-Nya, karena dia diciptakan tanpa ayah. Isa tidak menyebut sebuah dosa, akan tetapi dia hanya mengalihkan mereka kepada Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Ini adalah kemuliaan besar bagi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, karena empat orang nabi meminta maaf dengan menyebutkan apa yang pernah mereka lakukan dan satu lagi tidak menyebutkan alasan apa pun melainkan karena melihat Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lebih utama dari dirinya. Lantas mereka datang menemui Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan beliau menerima hal itu. Lalu beliau bergegas sujud di bawah Arasy dan Allah membukakan (mengilhamkan) untuknya pujian-pujian dan sanjungan yang baik kepada Allah, sesuatu yang belum pernah dibukakan kepada seorang pun selain beliau. Kemudian dikatakan, "Angkatlah kepalamu. Berkatalah, perkataanmu pasti didengar. Mintalah, permintaanmu pasti akan diberikan kepadamu. Berikanlah syafaat, niscaya syafaatmu akan diizinkan." Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberi syafaat dan berkata, "Umatku, wahai Rabb-ku! Umatku!" Maka Allah menerima syafaatnya, dan dikatakan kepadanya, "Masukkan umatmu melalui pintu kanan surga. Mereka juga memiliki hak yang sama dengan semua manusia lainnya di pintu-pintu surga lainnya." Ini mengandung petunjuk nyata bahwa Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- adalah rasul paling mulia, sedangkan para rasul adalah manusia yang paling utama.

Terjemahan: Inggris Prancis Spanyol Urdu Bosnia Rusia China Persia Indian Orang Vietnam Kurdi
Tampilkan Terjemahan