1. Beranda Utama
  2. Klasifikasi
  3. Fikih dan Uṣūl Fikih

Hadis Ia hendaknya mengerik (darah dari pakaiannya), menyiramnya dengan air, lalu mencucinya, kemudian salat dengan mengenakan pakaian tersebut.

عن أسماءَ رضي الله عنها قالت: جاءت امرأةٌ النبيَّ صلى الله عليه وسلم فقالت: أرأَيْتَ إحدانا تَحِيضُ في الثَّوب، كيف تصنعُ؟ قال: «تَحُتُّهُ، ثم تَقْرُصُه بالماء، وتَنْضَحُه، وتُصَلِّي فيه».

Dari Asmā` -raḍiyallāhu 'anhā-, ia berkata, Seorang wanita datang kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alahi wa sallam- dan berkata, "Bagaimana jika salah satu di antara kami yang darah haidnya mengenai pakaiannya; apa yang harus dia lakukan?" Beliau menjawab, “Ia hendaknya mengerik (darah dari pakaiannya), menyiramnya dengan air, lalu mencucinya, kemudian salat dengan mengenakan pakaian tersebut."

Hadis sahih Muttafaq 'alaih

Uraian

Asmā` -raḍiyallāhu 'anhā- menuturkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alahi wa sallam- ditanya tentang darah haid yang mengenai pakaian. Maka beliau menjelaskan cara menyucikannya, yaitu seorang wanita terlebih dahulu mengeriknya agar zat najisnya hilang, kemudian menggosok-gosok tempat darah tersebut dengan jari-jarinya, sehingga darahnya terangkat dari kain tersebut, lalu setelahnya ia mencucinya untuk menghilangkan sisa najisnya. Inilah urutan penyucian yang harus dilakukan, dan ini merupakan cara paling baik dalam menghilangkan najis yang telah mengering. Jika urutan ini dibalik maka dipastikan najisnya menyebar, sehingga mengenai bagian-bagian pakaian yang tidak terkena najis sebelumnya. Setelah mencucinya dengan cara ini, dia boleh menggunakan pakaian yang terkena darah haid tersebut untuk salat.

Tampilkan Terjemahan

13 Bahasa
EN English الإنجليزية
UR اردو الأوردية
ES Español الإسبانية
FR Français الفرنسية
TR Türkçe التركية
RU Русский الروسية
BS Bosanski البوسنية
HI हिन्दी الهندية
ZH 中文 الصينية
FA فارسی الفارسية
VI Tiếng Việt الفيتنامية
KU Kurdî الكردية
HA Hausa الهوسا